Ngopikere mastekaya adalah dua kata yang sepertinya layak dipasangkan keberadaannya. Sebagaimana ketika ada kata kopi kere tak adil kalau kata paste kaya juga tak dihadirkan. Ya, ngopikere dan lalu maste kaya layak dilakukan, karena apa bedanya kalau sudah ngopikere tapi tetap juga mastekere..? Jadinya benar-benar kere dong..!
Ngopikere mastekaya adalah cita-cita dari beberapa teman sebagai jawaban atas keinginan dalam menciptakan ruang diskusi, namun juga tetap membuka ruang kreasi, ruang rekreasi, serta ruang kontemplasi.
Baiklah, kita mulai dari apa itu ngopikere..?
Ngopi kere merupakan kegiatan meminum kopi yang dilakukan oleh beberapa teman sambil duduk sesukanya. Kadang lesehan di ubin, kadang sambil tiduran di lantai, dan kadang juga duduk di sofa. Sembari menikmati kopi itu acapkali juga dilangsungkan sebuah obrolan, dimana dalam kondisi ngobrol seriuspun tak jarang ‘gojek kere’ juga keluar sebagai bagian dari candaan pun gurauan.
 
Sudah lesehan serta tiduran ala kere, obrolannya juga tak jauh dari obrolan gojeg kere. Jadi sangat masuk akal kalau disebut sebagai ngopi kere bukan..?
Dengan pola obrolan yang tanpa konsep muluk-muluk dan sebatas didasari obrolan kere itu, sejatinya ada rasa kebersamaan saling berbagi antar penikmat kopi. Tak ada sosok yang harus ditempatkan lebih tinggi misalnya sebagai juru bicara ataupun narasumber. Semua sejajar serta setara.
Meski pada materi obrolan pun bahan diskusi acapkali ditemukan sebuah diksi ataupun friksi, sering pula dijumpai adu argumentasi, namun sebagai endingnya, yang pasti masih tetap sebatas diskusi demi memperkaya khasanah kedewasaan otak kita. Karena toh ketika ada yang harus dikerucutkan, semua peserta obrolan ngopikere juga bisa dengan dewasa menemukan titik kerucutnya. Tatkala ada yang bisa dilakukan, toh teman-teman ngopikere mampu merealisasikannya.
Nah, dengan suasana ‘ngopi kere‘ semacam itu, walau tanpa target, namun tetap ada cita-cita kami untuk membikin ajang yang lebih besar. Dengan tujuan mampu mengakomodasi kehadiran teman-teman lain, ada keinginan kami untuk menciptakan ruang terbuka, bukan saja sebatas sebagai ruang diskusi. Lebih dari itu ada juga kehendak untuk menyediakan ruang kreasi, ruang rekreasi, serta ruang kontemplasi. Maka tercetuslah acara ngopikere di puncak Bukit Menoreh, tepatnya di area Kebon Tower Gunungkelir.