Kopi Jawa, atau Java Coffee sangat terkenal di seluruh dunia. Kopi Jawa sangat terkenal enak bahkan di Amerika kata Kopi merujuk ke makna Jawa itu sendiri sebagai tempat tumbuhnya kopi Jawa. Sementara di Jawa, kopi mengandung makna yang mengarah pada minuman yang dibuat dari biji kopi, yaitu minuman kopi yang kental, hitam dan menyegarkan. Padahal diketahui dari catatan sejarah bahwa kopi berasal dari Ethiopia di benua Afrika dan pada jamannya menyebar ke Jazirah Arab dan menjadi minuman yang sangat digemari bahkan dianggap memiliki manfaat yang banyak untuk kesehatan dan kebugaran.Saat ini muncul istilah Kopi Khas Bogor, hal ini merujuk pada pertama kalinya biji kopi ditanan di Jawa, yang dibawa oleh orang Belanda pada abad 16. Orang Belanda tersebut berhasil membawa biji kopi arabika yang dilarang keluar dari Arab, untuk ditanam di wilayah jajahan Belanda yaitu di Sri Lanka dan di Pulau Jawa. Tanah Jawa yang sangat subur dan mampu ditanami apapun dengan hasil yang memuaskan. Kopi Arabika memang akhirnya sempat terserang hama di banyak daerah ujicoba penanaman di Indonesia namun ketika berganti dengan biji kopi Robusta, tanaman kopi kembali mengharumkan minuman-minuman di bumi Indonesia.

“Java bean” redirects here. For the software component, see JavaBean.

Java coffee is a coffee produced on the island of Java. In the United States the term “Java” by itself is, in general, slang for coffee. The Indonesian phrase Kopi Jawa refers not only to the origin of the coffee, but is used to distinguish the strong, black, very sweet coffee, with powdered grains in the drink, from other forms of the drink.

The Dutch began cultivation of coffee trees on Java (part of the Dutch East Indies) in the 17th century and it has been exported globally since. The coffee agricultural systems found on Java have changed considerably over time. A rust plague in the late 1880s killed off much of the plantation stocks in Sukabumi, before spreading to Central Java and parts of East Java. The Dutch responded by replacing the Arabica firstly with Liberica (a tough, but somewhat unpalatable coffee) and later with Robusta. Today Java’s old colonial era plantations provide just a fraction of the coffee grown on the island, although it is primarily the higher valued Arabica variety.[1]

Java’s Arabica coffee production is centered on the Ijen Plateau, at the eastern end of Java, at an altitude of more than 1,400 meters. The coffee is primarily grown on large estates that were built by the Dutch in the 18th century. The five largest estates are Blawan (also spelled Belawan or Blauan), Jampit (or Djampit), Pancoer (or Pancur), Kayumas and Tugosari, and they cover more than 4,000 hectares [2]

These estates transport ripe cherries quickly to their mills after harvest. The pulp is then fermented and washed off, using the wet process. This results in coffee with good, heavy body and a sweet overall impression. They are sometimes rustic in their flavor profiles, but display a lasting finish. At their best, they are smooth and supple and sometimes have a subtle herbaceous note in the aftertaste.

This coffee is prized as one component in the traditional “Mocha Java” blend, which pairs coffee from Yemen and Java. Some estates age a portion of their coffee for up to three years. During this time, the coffee is “monsooned”, by exposing it to warm, moist air during the rainy season. As they age, the beans turn from green to light brown, and the flavor gains strength while losing acidity. These aged coffees are called Old Government, Old Brown or Old Java.

Java is also a source of kopi luwak, renowned as the most expensive coffee in the world. On Java, this variety is produced by feeding captive palm civets with ripe coffee cherries. The digestive tract of the civet removes the mucilage from the coffee beans.

 

sumber Wikipedia

Kopi Jawa atau ada juga Kopi Khas Bogor, sempat di teliti di Belanda dan dikembangkan ke seluruh dunia. Jadi yang sangat membanggakan adalah kopi di Jawa menjadi laboratorium pengembangan kopi yang akhirnya menjadi nenek moyang kopi-kopi yang ada di seluruh dunia.

 

Sungguh biji kopi ini berkembang menjadi bisnis yang luar biasa, dari yang konglomerasi internasional sampai hanya warung-warung kopi di desa-desa yang ada di pelosok Indonesia. Banyak daerah memiliki kopi yang khas dengan rasa yang beragam. Rasa yang beragam membawa pada nilai harga karena kesukaan dan mutu kopi tersebut. Kopi dari Timor Leste bisa bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah karena kenikmatannya. Kopi Toraja memiliki aroma dan rasa yang khas dan membuat harga jualnya sangat tinggi.

 

Kopi Lampung, Kopi Bengkulu, Kopi Aceh, dan banyak lagi memiliki rasa dan kenikmatan yang berbeda-beda. Kearifan lokal dalam menyajikan dan meramu kopi menjadi keragaman kuliner yang sangat banyak. Menjadikan para pemburu dan penggemar kopi ingin merasakan kopi-kopi yang berasal dari banyak daerah, bahkan mengkoleksinya untuk dinikmati ketika bercengkerama dengan keluarga atau menjadi sajian yang khusus untuk teman yang akan sangat dirindukan. Sebagaimana kopi khas Bogor, setiap daerah di Indonesia memiliki kopi dengan kenikmatannya yang tak tertandingi.

 

Jawa juga memiliki Kopi Luwak yang mengundang kontroversi, karena ada yang mengatakan haram. Tekonologi mencari makanan yang nikmat dengan mengandalkan binatang sangat dikenal di Jawa. Apabila buah-buahan yang dicuri oleh binatang biasanya memang memiliki rasa yang sempurna, atau matang.

 

Kopi Khas Bogor, atau Kopi Priangan

 

Kopi sunda, atau kopi Priangan memiliki rasa yang disukai oleh banyak orang di dunia. Kopi khas Bogor ini akan mulai diekspor setelah dahulu pada awal abad 19 terhenti karena terserang hama:

Metrotvnews.com, Bandung: PT Morning Glory, produsen dan pengolah kopi dari Jawa Barat yang terkenal dengan Kopi Priangan atau Java Preanger Coffee akan mengekspor kopi ke Belanda satu kontainer.

“Tahun ini kita ekspor ke Belanda sebanyak 18 ton,” kata pemilik dan pengolah kopi PT Morning Glory Coffee International, Nathanael Charis, seusai memberikan penghargaan kepada lima petani dan pengolah kopi, di Bandung, Jawa Barat, Ahad (29/7).

Nathanael mengatakan, ekspor kopi Java Preanger yang dilakukan oleh perusahaannya dilakukan sejak 2009. “Tahun 2009, kami berhasil ekspor pertama kalinya itu ke Australia, sebanyak satu kontainer dan tahun 2011 juga akan diekspor ke Australia lagi, namun tidak jadi karena gagal panen akibat hujan,” ujarnya.

Ia menuturkan, sejak berabad-abad yang lalu, kopi asal Jawa Barat tersebut selalu menjadi komoditas paling ditunggu di dunia. Hal ini, kata dia, terbukti ketika setiap kapal laut VOC berlabuh ke Pulau Jawa, kopi dari Priangan menjadi bawaan utamanya selain rempah-rempah dan lainnya.

“Dari sanalah kopi Priangan yang kemudian dikenal di Eropa dan seantero dunia sebagai Java Coffee atau Java Preanger Coffee,” kata dia.

Menurut dia, kopi Priangan banyak disukai karena punya rasa yang disebut mild oleh para penikmat kopi. “Akan tetapi, pengiriman kopi Priangan tersebut terhenti pada 1924 karena masalah hama karat daun yang menyerang seluruh tanaman kopi di Jabar hingga musnah,” kata Nael.

Ia menuturkan, pada 1997 setelah serangan hama karat daun, komoditas kopi kembali ditanam di Jawa Barat, namun memakai benih kopi jenis arabica dari Aceh Tengah. “Hingga saat itu orang mengenalnya dengan sebutan sebagai kopi Ateng, kependekan dari Aceh Tengah,” kata dia.

Dikatakan Nathanael, karena kopi tersebut diekspor dalam bentuk raw material ke beberapa negara, sehingga terjadi kesenjangan ekonomi antara harga yang dibeli dari petani dan harga di pasaran internasional.

Berawal dari sanalah, lanjut dia, pihaknya selaku roaster coffee berupaya memperpendek jarak itu agar petani dan pengolah di Jawa Barat, bisa menikmati hasil yang lebih besar.

“Dan satu-satunya cara ialah membuat brand Java Preanger Coffee yang memiliki standar internasional,” katanya.

Ia mengaku berusaha mendekati para petani dan pengolah kopi tradisional di Jabar karena ingin mengedukasi mereka agar produk kopinya bisa langsung diterima pasar internasional.

“Namun pada mulanya tidak dianggap. Mungkin melihat siapa saya. Tapi syukurnya, Dinas Perkebunan Provinsi Jabar mau memfasilitasi pertemuan itu di Garut pada tanggal 13 Mei 2008,” katanya.

Pada pertemuan tersebut ada 150 petani dan pengolah kopi Jabar yang datang dan juga didatangkan pembeli dari Australia yaitu Toby Smith yang menjelaskan tentang pasar kopi internasional.(Ant/BEY)

 

Sumber: Metro

Varietas Kopi Jawa

 

Kopi memiliki varietas yang bermacam-macam. Hal ini terjadi karena pembuahan dan pembiakan yang terjadi karena berbeda lokasi dan suhu. Genetika kopi dan proses tumbuhnya mempengaruhi tanaman kopi dan biji kopi. Keragaman tanah dan proses produksi dalam genetika yang sama pun akan menghasilkan aroma dan rasa kopi yang memiliki kenikmatan masing-masing. Berikut beberapa varietas kopi yang berkembang di Indonesia dan seluruh dunia:

 

Kopi Kolombia (Colombian coffee) – pertama kali diperkenalkan di Kolombia pada awal tahun 1800. Saat ini kultivar Maragogype, Caturra, Typica dan Bourbon ditanam di negeri ini. Jika langsung digoreng, kopi Kolombia memiliki rasa dan aroma yang kuat. Kolombia adalah penghasil kopi kedua terbesar di dunia setelah Brasilia. Sekitar 12% kopi di dunia dihasilkan di negara ini

Colombian Milds — Varietas ini termasuk kopi dari Kolombia, Kenya dan Tanzania. Semuanya adalah jenis kopi arabica yang telah dicuci.

 

 

Biji kopi yang belum digoreng dari varietas C. arabica

Costa Rican Tarrazu — dari (en)”San Marcos de Tarrazu valley” di pegunungan di luar San José, Costa Rica.

Guatemala Huehuetenango — Ditanam di ketinggian 5000 kaki di bagian utara Guatemala.

Ethiopian Harrar — dari Harar, Ethiopia

Ethiopian Yirgacheffe — dari daerah di kota Yirga Cheffe di provinsi Sidamo (Oromia) di Ethiopia.

Hawaiian Kona coffee — ditanam di kaki pegunungan Hualalai di distrik Kona di Hawaii. Kopi diperkenalkan pertama kali di kepulauan ini oleh Chief Boki. Ia adalah gubernur Oahu pada tahun 1825.

Jamaican Blue Mountain Coffee — dari Blue Mountains di Jamaika. Kopi ini memiliki harga yang mahal karena kepopulerannnya.

Kopi Jawa (Java coffee) — dari pulau Jawa di Indonesia. Kopi ini sangatlah terkenal sehingga nama Jawa menjadi nama identitas untuk kopi.

Kenyan — terkenal karena tingkat keasamannya dan rasanya.

Mexico – memproduksi biji kopi yang keras.

Mocha — Kopi dari Yemen dahulunya diperdagangkan di pelabuhan Mocha di Yemen. Jangan disalahartikan dengan cara penyajian kopi dengan coklat.

Santos – dari Brasilia. Memiliki tingkat keasaman yang rendah. (en) [1]

Sumatra Mandheling dan Sumatra Lintong — Mandheling dinamakan menurut suku Batak Mandailing di Sumatra utara di Indonesia. Kopi Lintong dinamakan menurut nama tempat Lintong di Sumatra utara.

Kopi Gayo (Gayo Coffee) — berasal dari Dataran Tinggi Gayo — Gayo adalah nama Suku Asli di Aceh — yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Sulawesi Toraja Kalosi — Ditanam di daerah pegunungan tinggi di Sulawesi. Kalosi adalah nama kota kecil di Sulawesi, yang merupakan tempat pengumpulan kopi dari daerah sekitarnya. Toraja adalah daerah pegunungan di Sulawesi tempat tumbuhnya kopi ini. Kopi dari Sulawesi ini memiliki aroma yang kaya, tingkat keasaman yang seimbang (agak sedikit lebih kuat dari kopi Sumatra) dan memiliki ciri yang multidimensional. Warnanya coklat tua. Kopi ini cocok untuk digoreng hingga warnanya gelap. Karena proses produksinya, kopi ini dapat mengering secara tidak teratur. Walau demikian biji yang bentuknya tidak teratur ini dapat memperkaya rasanya.

Tanzania Peaberry — di tanam di Gunung Kilimanjaro di Tanzania. “Peaberry” artinya biji kopi ini hanya satu dalam setiap buah. Tidak seperti layaknya dua dalam satu buah. Ini biasanya tumbuh secara alami pada 10% dari hasil panen kopi.

Uganda – Meskipun sebagian besar penghasil kopi robusta. Ada juga kopi arabika berkualitas yang dikenal sebagai Bugishu. (en) [2]

Kopi Luwak- salah satu varietas kopi Arabika dan Robusta yang telah dimakan oleh luwak kemudian dikumpulkan dan diolah. Rasa dan aroma kopi ini khas dan menjadi kopi termahal di dunia.

 

Juga ada varietas lain yaitu varietas kopi robusta yang tak kalah nikmat dan lebih kuat terhadap hama. Kopi robusta dan arabika dapat juga bercampur dan tak lupa mereka memiliki kontribusi dalam kenikmatan kopi luwak.

 

Betapa hebatnya negara ini memiliki makanan-makanan yang ternikmat di dunia. Bravo untuk kopi khas bogor atau kopi priangan yang sedang naik daun dan mereguk kesuksesan.

 

via Wikipedia

 

Kopi Jawa, bukan sekedar kopi khas Bogor

Ditulis oleh: Horizon Inspirasi pada 4 Agustus 2012

Rating: 4.5