Sudah Berartikah kita ?

Pertanyaan yang ringan namun memerlukan jawaban yang pelik

dalam benak kita kadang muncul pertanyaan” Sudah berartikah kita pada sesama, pada lingkungan dan pada yang lain ?.pertanyaan tersebut dalam kasarnya bisa di ungkapkan sebagi berikut ini: apakah keberadaan kita ada pengaruhnya ?,atau seberapa besar efek yang ditimbulkan oleh keberadaan kita?.

sesederhana itukah ?.tentu dalam implementasinya sangat susah.

tak sedikit orang yang mengaku pandai,cerdik,cendekia,dan merasa sukses dalam hidup namun tidak terasa efek baiknya pada lingkungan dan orang lain.

tak sedikit orang yang menjadi besar dan hebat karena orang lain dan orang disekelilingnya,namun kadang orang tersebut tidak memberi imbas balik yang baik.

satu contoh seorang bos yang sukses dalam sebagian proyek ,yang tentu didukung oleh kerja keras para kuli dan tukang tukangnya,tapi tak sedikit bos tersebut tidak menjalin kebersamaan dan tak berorientasi pada arti bos pada karyawanya

namun yang sering terjadi ,bos itu cenderung memanfaatkan dan memperalat para pekerjanya untuk keuntungan dirinya sendiri.

fenomena yang terjadi di atas adalah sebagian besar cerminan dari kebanyakan profesional kontruksi,tanpa disadari sebenarnya salah satu kejahatan yang besar walau tak sejahat para koruptor dan perampok uang rakyat.

semula kita pun terpanggil dalam pekerjaan pekerjaan yang selama ini saya jalani bermula pada ke inginan merubah hidup, yang bukan sekedar mempertahankan hidup.

Berawal pula senantiasa membangun perinsip dari beberapa petuah orang tua yang sering terngiang “eling mulo buko lan eling tembe mburine , kabeh pintane nang pogo mung wis karo durung.”

ditarik kembali pada awal dan asal muasal yang empiris bahwa kita terlahir tidak di bekal oleh harta kebendaan serta ketika meninggal tak membawa serupiah uang pun ,dalam masalah kejayaan dan kekalahan ,kesenangan ,kepahitan itu semua orang memiliki yang disebut sebagai ” pintanne nang pogo” ( memiliki jatah sendiri ) hanya masalah waktu.

bila kita mencermati dan memaknainya hal tersebut akan menjadikan kita arif dalam bertindak sebagai yang disebut bos ataupun atasan,dalam penerapan yang lebih membumi tentu kita tak akan merasa kita yang paling hebat diantaranya ,namun akan lebih bijak jika kita mengambil peran sebagai bagian dari mereka,karena disadari ataupun tidak kita menjadi berarti karena keberadaan para pekerja dan orang lain ,jadi tinggal kita bertanya kembali pada diri kita seberapa besarkah arti kita bagi mereka,yang setiap saat selalu tunduk dengan perintah kita,

alangkah jahatnya kita manakala kita tak sedikitpun peduli dengan kehidupan mereka,mungkin alangkah bijaknya andai beberapa teman yang seprofesi maupun yang memiliki pekerja ,anak buah,bawahan dll,mengambil umpama dan berpijak pada pikiran bahwa mereka adalah yang membesarkan kita jadi biarkan mereka menjadi besar juga oleh kita, tentu kita akan menjadi lebih besar lagi,merekalah yang senantiasa panas hujan siap menjadi ujung perang kita untuk kesuksesan dan kesejahteraan kita ,yang tentu kita kan menjadi lebih sejahtera lagi apabila kita juga membantu mensejahterakan mereka .

mungkin apabila kita terpaku pada rumus logika matematika .pada dasar penambahan dari pengurangan ,pengalian pada pembagian tentu membuat kita berorientasi pada kenakalan ,untuk menambah keuntungan dengan mengurangi ukuran atau spek ,dan mengalikan semua sebelum kita bagi.tapi ingatkah ketika seringkali ,adakalanya logika kita dimentahkan oleh unsur yang lain seperti sprit yang menghidupkan kita ,kita ambil pelajaran pada ilmuwan sepandai Einstein akhirnya mentok dalam memecahkan atom oleh kekuatan Illahiah yang disebut GOD Spirit.nah kita tak sepandai mereka jadi kadang juga tak mengembalikan pada Kekuatan Illahiah ,artinya betapa bodohnya apabila kita tak pernah sekalipun mengembalikan pada Pemilik Kekuasaan ,tak jarang juga orang cenderung takabur dengan kehebatan yang diakunya, Merasa hebat karena pandai membuat gambar,merasa top karena sudah menjadi actor,merasa lebih karena sudah menjadi penulis ternama,menjadi Bupati,Guru,Politisi ,merasa nomor satu sendiri dengan mengesampingkan pendukung dan peran orang lain . adakah dalam benak kita merasa sudah berarti bagi orang lain ? .tentu bukan terukur dari berapa banyak karya yang sudah dihasilkan oleh kita tapi seberapa mengena pada lapis kepentingan orang banyak ,tapi kebanyakan masih baru pandai dalam aplikasi ( Rumusan ) yang kadang berupa tulisan,kadang umpatan ketidak adilan,dan berujung pada mencerca orang lain,menjadi pendemo yang mengatasnamakan seluruh rakyat menggugat dengan ceramah busuk memprofokator dengan tulisan dan pidato ,yang semua tentu jauh dari Implementasi pengaruh berartinya diri kita pada orang lain.ada seorang pelukis yang sudah merasa hebat karena harga lukisannya mahal dan di pamerkan keseluruh dunia ,namun apa artinya kalo toh kita tak bias membagi artinya pada sesama, ada pula penulis yang merasa hebat karma karya bukunya banyak tercetak dan laris di pasaran ,toh mestinya dilihat dari seberapa besar efek pengaruh kebaikan dari tulisanya yang menjadi ukuran berartinya penulis bagi sesame.ada pula Guru ,Dosen,Pengajar yang kadang memiliki gelar se abrek menjadi bangga karena mengajar di beberapa perguruan toh masih tak sedikit yang masih melahirkan kebengalan anak didik,mahasiswa yang pendemo ( penghujat ) dan masih banyak lagi wakil rakyat yang bangga dengan sebutan pak Dewan namun merakyat hanya pada saat kampanye .dan se abrek lagi profesi yang tidak menarik pada berartinya kita pada orang lain.

Mari kita tanyakan selalu :

Seberapa berartinya kita pada sesama ,pada lingkungan,pada bangsa ?

Sejauh mana kita telah berbuat manfaat bagi sesama?

Sebagai mana kita telah mengambil peran yang baik pada orang lain?

Hebatkah kita yang melangit tanpa menyadari kebumian yang kita pijakan?..

Mari kita tanggalkan kemeja kita yang berdasi dan menyatulah dengan mereka berdampingan, dengan membaui keringatnya, merasakan kelelahannya, hingga kita menjadi tahu dan berterima kasih pada mereka, dan ambil peran anda untuk arti bagi mereka.

Bisa berbagi berarti kita tak miskin ,

Kayu Agung ,OKI,Sumsel 27 July 2008