Sore ini di rumah saya ada rapat RT yang membahas data ulang penerima Bantuan Langsung Tunai yang diadakan oleh aparatur desa dan intinya membicarakan kriteria penerima bantuan langsung tunai sambil intip dan mendengarkan rapatnya ternyata seru …… biasa ,wong ndeso kalo rapat dengan beda wawasan kan jadi agak nglantur , setelah saya amati ketika merujuk pada kriteria dasar penerima bantuan langsung tunai semua pada saling melihat dan saling melongok satu sama lain ,Lha gimana rata rata kategori atau kriteria yang jadi rujukan tersebut tidak ditemui,maksunya kalo mengikuti kategori atau kriteria dasar yang ada dan menjadi acuan nggak ada yang pantas menerima trus gimana

lucukan ? masyarakat yang kata penggede miskin karena di desa ternyata kriterianya nggak ada di desaku itu pula yang pernah saya lihat baru baru ini di sebuah desa transmigrasi tepatnya di Batu Marta IV Madangsuku III Oku Timur , disana untuk mencari satu warga yang cuman memiliki satu kendaraan saja nggak ada karena rata rata memiliki lebih dari satu motor.Fantastis bukan ?sedang untuk kriteria rumah yang belum berlantai juga tidak ditemui dalam rumah seorang janda tua saja keramiknya kinclong ,kulkas dua pintu ,tv 29 inch wah hebat kan !!

Tentu semua itu ada penyebabnya kan ? jelas karena mereka di desa saya rata adalah petani ternak kambing etawa yang anda bisa tahu dan lebih mendalami dalam peternakan etawa pada postingan saya juga

sedang untuk masyarakat di Batu Marta itu karena semua atau mayoritas adalah petani karet yang maju juga jadi tidaklah mengherankan kalau dari keduanya susah mendapati kriteria dasar untuk menerima BLT .sebenarnya bukan masalah BLT ( Bantuan Langsung Tunai ) yang di luncurkan pemerintah untuk menutup kenaikan BBM tapi betapa indahnya kalau semua masyarakat yang ada di Indonesia seperti sebagian masyarakat yang ada di pedesaan , seandainya pemerintah kembali serius dalam memikirkan sektor pertanian dan peternakan ataupun mengembangkan pedesaan sebagai ujung pembangunan betapa satu konsep yang mungkin akan membebaskan kita dari kesengsaraan bernegara.