Kenaikan Harga BBM yang menjulang dan di ikuti assesories lain yang ikut naik seperti angka frustrasi karena desakan ekonomi dan akhirnya banyak aksi bunuh diri dan lainya , dalam masalah ini menjadi konflik yang luar biasa antara nggak mau dipaksa mau .sudah menjadi hal yang wajar kalau sebagian besar masyarakat indonesia sangat risau dan masih melakukan penolakan terhadap melambungya BBM bahkan menjadi agenda beberapa politisi yang dengan alasan tertentu akhirnya menyusun agenda mendesak menyelamatkan bangsa yang tentu sudah menjadi sebuah kebiasaan konflik yang terjadi yang mengakibatkan rakyat menderita itulah sebenarnya harapan para politisi. kenapa begitu ya tentu momen itulah yang bermanfaat untuknya sebagai ajang mencari simpati rakyat guna kepentingan golonganya,ada pula fenomena para jendral yang bersi tegang beradu simpati, tapi tentu anda heran kalo ada sebagian masyarakat yang justru senang dengan keputusan naiknya harga BBM …? sudah barang tentu anda menganggap gila kali ya ,tapi mari kita amati fakta yang terjadi di sebagian masyarakat itu , dalam kedatangan saya yang sekalian karena pekerjaan di sebuah Desa Transmigrasi yang berisikan petani karet , saya iseng menanyakan seberapa besar imbas kenaikan harga BBM di lingkungan Transmigrasi , anda tentu heran bahwa mereka menanggapi dengan senang hati keputusan kenaikan harga BBM ,kenapa itu yang menjadi pertanyaan besar bagi saya , ternyata kenaikan harga BBM yang tinggi dan mengakibatkan naiknya harga bahan lainya berimbas pula naiknya harga karet dalam perkilonya sebelum harga BBM naik , harga karet waktu itu masih dalam kisaran Rp 8000 setelah harga BBM naik harga karet dalam satuan kilonya merangsak naik hingga Rp 14000 Woh Fantastis bukan kalo kita analisa kira kira begini :
Harga BBM : Rp 5000 x 30% = Rp 6500
Harga Karet : Rp 8000 x 50% = Rp 13500
Jadi Kebayang kan betapa indahnya Harga BBM naik bila kita nikmati dengan kesiapan pada sektor Ekonomi kerakyatan yang mengikuti .tinggal kita bertanya seberapa siapkah kita dalam menghadapi keadaan yang carut marut ,dan apakah kita orang yang tercerahkan .bukan pada pemimpin kita menghujat dan berharap ,anggaplah mereka nggak ada artinya bagi kemajuan diri kita dan selama ini aku sendiri belum secara langsung merasakan pemerintah ,pejabat, politisi dan se abreg orang yang bilang memikirkan rakyat , dapat memenuhi dan memfasilitasi saya dan rakyat lingkungan saya ,buktinya nyata kok jalan desaku saja jelek dah bertahun tak di baikin padahal kita bayar pajak jadi ? Mulut yang berbicara dan bergaya memikirkan rakyat itu aku bilang seperti mulut yang penyakitan mengeluarkan nanah yang muncrat dan baunya wihhh .
dalam keputusasaan rakyat yang berkepanjangan lebih baik kita menyiapkan diri sendiri secara profesional dan mandiri untuk tidak bergantung pada pemerintah.siapkan diri dengan menggali kemampuan dan melihat kesempatan memupuk rasa peduli terhadap sesama hingga berbagi karya dan kaya .siapkah kita ?