Dulu waktu aku masih belum dewasa pernah mendengar ucapan ” Mangan Ra Mangan Kumpul ” dan waktu itu pula juga yang menjadikan orang Ndesoku batal untuk pergi Transmigrasi , pada pemikiran tertentu ketakutan untuk mengambil resiko yang besar banyak menghantui pikiran kita , salah satu contoh keberanian untuk berangkat transmigrasi juga merupakan keberanian untuk mengambil resiko yang tinggi , dimana pada jaman itu tentu sangat beda pandang dengan hari ini , dimana masa itu komunikasi ,transportasi belum cukup mendukung.
ketakutan untuk kehilangan famili ketika bepergian saat merantau,ataupun transmigrasi masih merupakan momok yang paling di takuti.
keberanian untuk menjadi lebih maju pada waktu itu juga dinilai sebuah kenekatan yang kadang dimaknai sebagai frustasi karena keadaan
pada awalnya tidak sedikit orang yang pergi transmigrasi karena sebuah kenekatan walaupun ada sebagian orang yang memang sangat memperhatikan dan memperhitungkan sekali kepergiannya
perjalanan proses yang cukup panjang pada akhirnya akan menuai kenikmatan itu juga ungkapan seseorang yang pernah aku dengar tanpa ku ingat siapa yang mengucapkannya ,tapi itu terbukti
pada perkembangan waktu sebuah pedesaan di daerah transmigrasi adalah pandangan hidup yang seperti kembali di beberapa tahun silam ,rumah kayu,jalan tanah,tidak ada listrik,pasar tradisional,tanpa angkutan yang memadai,ditepian hutan,banyak hewan buas,tak ada sekolah dll
tapi mari kita lihati dengan cermat ,debeberapa desa yang banyak saya kunjungi di daerah transmigrasi ,khususnya di Kalimantan dan Sumatra keadaan yang terpamapang ternyata mampu menepis cara pandang yang saya paparkan diatas
memang pada waktu yang lalu desa tersebut bisa dibilang 5 th tertinggal dari desa tempat kita saat ituKampung
rumah kayu jauh jalan raya memang pada awalnya ,tidak ada listrik juga memang tapi itupun di daerah yang bukan trans juga banyak .
tapi perkembangan yang di ikuti ketekunan ,keuletan serta kesabaran yang penuh dari para transmigran kini telah berbuah hasil.
satu contoh disebuah desa sebut saja Batu Marta yang secara geografis terletak di antara tengah – tenganya Martapura dan Baturaja ,yang terjadi disana adalah kemajuan yang luar biasa ,jalan sudah halus ,sarana pendidikan tersedia,transportasi yang cukup mendukung yang sudah barang tentu semua tersebut terselenggara karena kemampuan secara ekonomi mereka bagus .dan sudah barang tentu ketika tingkat ekonomi rakyat yang baik tentu tingkat sosial nya juga merangsak naik walau memang tidak kita pungkiri kenaikan tingkat tersebut haruslah di ikuti sumberdaya yang cukup mendukung ,karena ada juga orang yang karena duitnya banyak lantas membelikan barang barang yang sebenarnya belum cukup laik untuk di gunakan
fenomena yang kebablasan memang ada juga tapi to tidak akan menggangu dan bukan merupakan kendala yang berarti dalam membangun dan memajukan desa
perkembangan yang akhirnya drastis tentu karena banyak dipengaruhi juga oleh gonjang ganjingnya pemerintah ( stabilitas nasional ).sebuah desa ditransmigrasi kini bukan merupakan desa yang ketingalan dan seterusnya tapi justru desa yang mencerminkan kekayaan budaya indonesia dan keragaman yang akhirnya tidak saling mendominasi
rasa sesama perantau ,jauh dari kampung,dari bukan yang sedaerah akhirnya menciptakan keragaman budaya yang baru yang saling melengkapi dan menjunjung nasionalisme ,walau mungkin terlahir dengan didasari banyak alasan .tapi yang penting Ndesone aman ( desanya aman )
dari hal tersebut kita mestinya dapat menarik beberapa kesimpulan yang mungkin akan berarti dalam membangun Ndeso