Bukan Sengaja aku menemukan mu
Bukan aku tak ingat Waktu bersamamu
Bukan aku tak mengertimu
Bukan pula tak ingin bertemu
Namun Apa hendak dikata kita akhirnya tak bersama
Keinginan menjadi pembeda
Membelenggu semua rasa
Karena di dada terpateri sucinya cinta
Mengalir kedalam jiwa
Tak kelihatan di pandang mata
Mengisi ruang dan rongga
Apakah kita ditakdirkan tak bersama
Sudikah menjawabnya
Cintaku tak kesampaian
Terpaksa berkorban di tengah jalan
Berat rasa untuk meninggalkanmu
Tapi apa daya perpisahan ini membuat diriku lara
Di jendela kereta ini
Aku melihat kau masih berdiri
Rambutmu masih terurai
Lalu perlahan tanganmu melambai
Masih berbayang senyum manismu
Membelenggu
Menjadi resah
Bila ingat setiamu hanya untukku
Kita telah terpisah antara waktu
Aku telah jauh melangkah
Jauh semakin jauh dan hilang di pandangan mataku
Dan kau masih berdiri ?
Desember 13, 2008 at 4:43 pm
Maka, bergeraklah … menjalani Bumi Allah memungut hikmah-hikmah.
Desember 13, 2008 at 4:45 pm
hahaha belajar dari surat buat kekasih pak
Desember 14, 2008 at 4:41 am
‘surat buat kekasih’nya gak nyampe2 ke tempatku kok, Mas Tok.
padahal aku juga mau belajar lho, dari pak EWA.
padahal aku juga mau pintar bikin puisi….
buktinya njenengan, begitu dikirimi buku, langsung pinter. :D
Desember 14, 2008 at 3:28 pm
Romantis bgt Mas….siapa to …yang di tuju itu…
Desember 21, 2008 at 7:26 am
ahhhh…membaca posting ini, mengingatkan akan sebuah puisi yang dulu pernah diberikan seorang sahabat pada saya…judulnya “ketinggalan kapal”
pilu e mas…